Bandung Eko Sinergitas Teknologia

[Cerpen] Bandung Encok Sinergitas Teknologia

Naufal mengayuh sepedanya. Berkelana menyusuri jalanan Kota Kembang, pria yang baru saja lulus SMK itu menjajakan kopi hangat dan dingin kepada masyarakat yang membutuhkan pelepas dahaga.

Pemasukannya tidak banyak, hanya sekitar Rp100.000 hingga Rp200.000 per hari. Itu belum termasuk potongan sekian puluh ribu per hari, untuk biaya sewa sepeda dan lainnya. Ia mungkin hanya membawa pendapatan sekitar Rp50.000 hingga Rp125.000 saja.

Pendapatan tersebut cukup bagi Naufal hidup sehari-hari. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya, yang sudah berusia senja, dan hanya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan menjual jasa mereka ke tetangga.

Di kamar seluas dua kali tiga meter, badan Naufal yang kecil tetapi kekar akibat seringnya mengeluarkan tenaga untuk mendapatkatna penghasilan melepas penat. Ingin, dalam bayangan Naufal, membahagiakan kedua orang tuanya dengan penghasilan yang besar. Ingin pula, rasanya, mendapatkan pekerjaan yang lebih mapan, agar ia dan keluarganya bisa hidup lebih layak.

Sepertinya itu semua hanya mimpi saja buatku, ucap Naufal dalam hati. Pengharapan Naufal untuk hidup sejahtera, pada akhirnya, memertemukan dirinya dengan seseorang. Seseorang, yang mungkin menjadi jawaban Tuhan untuk meningkatkan taraf kehidupannya.

***

“Bang Naufal, gimana kalau Abang coba ikut bisnis saya,” ucap Mukhlis, tetangganya, yang juga masih seusia Naufal.

“Bisnis apa, ‘Khlis?”

“Bisnis antiriba! Pokoknya, kalau Abang Naufal ikut bisnis ini, tak jamin pasti kaya raya!”

“Wah, itu bagus kayaknya!”

“Oke, sekarang Abang ikuti petunjuk yang saya berikan.”

Seketika, Mukhlis memberikan Naufal, yang masih hijau dalam dunia per-bisnis-an antiriba, berbagai penerangan terkait bisnis tersebut. Bak seorang Kartini menuntun perempuan Indonesia menuju jalan pencerahan, Mukhlis menerangi kepala Naufal dengan berbagai jargon kekayaan yang dilontarkannya. Naufal, yang seolah sedang mendapaatkan ilham dari Ilahi, mengikuti penerangan Mukhlis.

“Jadi begitu, Bang! Abang cukup bayar Rp2.850.000 saja buat pendaftaran awal, dan Abang sudah mendapatkan barang seharga Rp4.000.000 yang bisa Abang jual kepada orang-orang. Kalau Abang bisa merekrut mereka, dan membuat kaki di kiri dan kanan, Abang akan mendapatkan bonus. Semakin besar kaki dan penjualan, semakin besar bonus yang akan diraih!”

Baca Juga  [Surat] Untuk D

“Bonus yang didapat apa saja, ‘Khlis?”

“Banyak! Ada motor, mobil, rumah, dan kapal pesiar. Semuanya cash, tanpa riba. Jadi, Abang tidak akan dapat dosa dari Allah, dan masuk neraka setelah mendapatkan reward ini!”

“Aku tertarik, ‘Khlis! Di mana aku bisa mendaftar?”

“Sini, Abang tinggal bayar uang sejumlah tersebut, dan isi formulir ini,” ucap Mukhlis, yang akhirnya mendapatkan downline sembari menyerahkan formulir pendaftaran.

“Tapi, ‘Khlis …, aku belum ada uang segitu. Lalu gimana?

“Bisa gadaikan barang-barang dulu, Bang. Tenang, nanti Abang bisa beli barang yang lebih mahal dan bagus!”

“Ide bagus, ‘Khlis!”

Akhirnya mimpiku untuk menjadi orang kaya dan membahagiakan orang tua terwujud. Terima kasih, Allah, ucap Naufal dalam hati. Impian untuk menjadi seorang sultan, seperti pujaan hatinya, Tantrew Dade, terwujud.

***

“Mau ke mana, Fal?” tanya ibu Naufal kebingungan.

“Naufal mau menjadi orang sukses, Ibu!”

“Mimpi apa kamu, sampai berkata demikian?”

“Tidak mimpi! Ini semua berkat bantuan Mukhlis!”

“Mukhlis yang baru beli Pajero itu?”

“Iya! Naufal sekarang ikut bisnis bareng Mukhlis, biar bisa jadi sultan rame-rame!”

Ibunya tampak kebingungan. Entah apa yang merasuki anaknya, hingga ia punya semangat untuk menjadi seorang sultan. Selama ini, ia mengira bahwa bekerja sebagai penjual kopi keliling sudah mengisi segala isi hati Naufal.

“Oke …, lalu barang-barang itu mau kau bawa ke mana, Naufal?” tanya ibu Naufal kembali, seraya menunjuk beberapa barang elektronik di rumah.

“Naufal akan gadaikan, dan gunakan uangnya untuk ikut bisnis!”

“Naufal yakin bisnis Mukhlis itu bagus? Awas, banyak penipuan sekarang ini …”

“Yakin, Ibu. Ibu bisa lihat sendiri, Mukhlis kini naik Pajero ke mana-mana. Setelan dia rapi juga, pakai jas setiap hari, perlente.”

“Ya sudah, kalau begitu. Ibu hanya berdoa agar Naufal tidak kena tipu saja …”

Baca Juga  [Kisah] Menjadi Saksi Kerusuhan Bali

Ibu Naufal meninggalkan Naufal sendirian. Naufal sibuk mengangkut barang-barang tersebut, untuk ia jual ke seorang pengepul. Uang yang didapat, setidak-tidaknya cukup untuk biaya pendaftaran bisnis yang ditawarkan Mukhlis.

Hidup kaya raya, aku datang, ucap Naufal dalam hati, kali ini dengan nada optimisme yang menggebu-gebu.

***

“Jadi, ini nama bisnisnya, Fal …, Bandung Encok Sinergitas Teknologia, atau BEST.”

“Nama perusahaan yang aneh, ‘Khlis. Tapi, dia punya gedung, dan gedungnya besar sekali!”

“Tentu! BEST adalah perusahaan penjualan langsung berbasis syariah yang sudah bersertifikat halal oleh lembaga pusat. Tak usah takut, kalau kamu nanti akan dicecar oleh perizinan. Ini sudah legal!”

“Wah, manta, ‘Khlis!”

“Jadi, karena kamu sudah menyerahkan uang pendaftaran, ini produk-produk yang akan kamu dapatkan. Ini namanya Encok Racing, tablet penghemat BBM. Tinggal kamu taruh di tangka motor, dijamin Pertalite akan menjadi Pertamax Turbo!”

“Okay, ‘Khlis! Di mana aku harus pasarkan produk-produk ini?”

“Kamu bisa pasarkan ke pangkalan ojek, ke bengkel motor, dan lainnya. Kamu sesuaikan saja.”

“Kalau misalkan produk ini tak laku, gimana, ‘Khlis?”

“Tak akan tak laku! Ini produk paling larit. Bahkan Presiden Fufufafa saja pakai ini di kendaraannya!”

Mendengar omongan Mukhlis yang begitu meyakinkan, Naufal semakin bersemangat. Ia tidak lagi menjadi penjual kopi keliling. Kali ini, ia menjadi seorang sales penjualan langsung berbasis syariah, anggota Bandung Encok Sinergitas Teknologia.

“Aku akan membantumu sampai bisa sukses sepertiku. Ya, minimal sampai kamu bisa punya Pajero sendiri.”

“Okay, ‘Khlis!”

Wah, aku sekarang pakai baju mentereng. Penampilanku lebih necis ketimbang seragam oblong ketika menjual kopi keliling. Penampilan begini, harusnya sesuai dengan isi dompet nanti, ucap Naufal dalam hati, meyakinkan diri bahwa penampilan yang perlente akan menghasilkan dompet yang juga sama perlente, alias tebal dengan uang merah dan uang biru.

Namun, impian untuk menjadi kaya raya yang menggebu-gebu, dari sebuah bisnis yang bekend, harus berakhir dengan balon yang meletus.

***

Baca Juga  [Surat] Teruntuk Guru Terkasih

Sudah enam bulan Naufal tidak mampu memasarkan produknya. Dari seluruh warga di lingkungannya, hanya satu orang yang ingin menjadi downline-nya. Itu pun, ia menyerah setelah bergabung selama satu bulan, dan kembali bekerja serabutan seperti biasa.

Naufal sendiri akhirnya hidup dengan tumpukan Encok Racing yang tak laku, memenuhi kamar kecilnya di rumah. Barang-barang elektronik milik keluarga, semuanya tidak kembali, baik dalam bentuk yang lebih baru, atau bentuk yang lebih sama.

Impian untuk mengendarai Pajero, seperti Mukhlis, jauh panggang dari api. Ya, benar bahwa Naufal pernah berfoto beberapa kali di depan mobil mewah sang pemilik Bandung Encok Sinergitas Teknologia, Bapak Febri dan Bapak Ranting. Harapannya, agar aura sang duo petinggi bisa memancar ke tubuh Naufal.

Namun, alih-alih menjadi promosi, foto tersebut malah menjadi bahan lelucon oleh warganet. Ada yang mengedit fotonya bersanding dengan M1 Abrams, pesawat tempur F-18, hingga kapal SS Ourang Medan. Pokoknya, Naufal harus menanggung malu luar biasa.

Dari respon mereka, Naufal menyadari, bahwa Bandung Encok Sinergitas Teknologia telah banyak membuat masyarakat kelas bawah terjebak dalam imaji kekayaan instan. Buaian Pajero, rumah mewah, bahkan kisah kesuksesan anak tukang kayu bakar, dijual untuk meyakinkan calon korban bahwa bisnis ini terbukti membuat orang kaya raya.

Alih-alih kaya, Naufal justru kini terjebak di sudut kamarnya, bersama puluhan kardus Encok Racing yang tidak laku di mana-mana, dan ditertawakan oleh pemilik bengkel, pelaku ojek pangkalan dan ojek daring, serta masyarakat lain.

Mukhlis, orang yang menjerumuskannya dalam bisnis Bandung Encok Sinergitas Teknologia ini, menghilang dari radar. Ia bersama Pajero kesayangannya tidak lagi nampak moncongnya. Sepertinya, Mukhlis sudah berpindah wilayah, mencari mangsa-mangsa baru yang bisa ia jerat dalam bisnis penjualan langsung berbasis syariah ini.

Ya, niat mau kaya raya, malah buntung malang, ucap penyesalan Naufal dalam hatinya, yang kini tidak bisa diputar kembali.

Pariwisata Bali

Sejarah Pariwisata Bali (2-Habis): Bencana bagi Pulau Dewata

Pi Network

Pi Network, Wujud Matinya Sebuah Kepakaran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tag

Komentar Terbaru