Otokritik

‘Belajar dari Sejarah itu Penting, Kawan’ – Sebuah Otokritik

“Belajar dari sejarah itu penting, kawan!” tulis sebuah poster yang dipegang seorang pria. Dalam poster tersebut, yang dibagikan melalui akun X sebuah media sejarah populer, menampilkan adegan mahasiswa yang menduduki gedung DPR pada 1998 silam. Setidak-tidaknya, poster tersebut menyiratkan bahwa siapa pun yang melihatnya, harus kembali melihat catatan peristiwa masa silam.

Saya mungkin akan memperhalus komentar saya terkait poster tersebut, mengingat saya juga menjadi bagian dalam media sejarah populer itu. Saya akan menuangkan sedikit otokritik, utamanya bagi saya sendiri, terkait pesan poster itu.

Saya tidak mengkritisi isi pesan tersebut. Sebagai seseorang yang menekuni sejarah, baik secara akademik di ruang ajar, maupun sebagai penulis tulisan-tulisan populer, saya katakan bahwa kalimat di atas benar adanya. Masyarakat sudah seharusnya kembali belajar kepada masa silam, melihat catatan-catatan yang ditinggalkan generasi sebelumnya kepada kita.

Dalam proses kembali ke masa silam, diharapkan bagi kita untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Proses kembali, setidak-tidaknya, harus dilakukan dengan kontemplasi, melihat lebih dalam masa silam dari berbagai pendekatan dan perspektif. Akhirnya, sebuah titik terang kebenaran tampil kepada kita, menunjukkan jalan yang mungkin dapat dilakukan untuk meniti masa depan yang lebih baik.

Namun, catatan krusial yang perlu saya garis bawahi terkait kalimat tersebut, adalah media sejarah populer yang menerbitkan gambar tersebut di media sosial juga perlu melakukan hal yang sama terlebih dahulu. Mengapa demikian? Karena selama beberapa waktu saya berada di dalamnya, saya belum menemukan jawaban dari identitas “media sejarah” yang diusungnya.

Konten-konten sejarah yang diterbitkan masih sebatas menjawab pertanyaan 4W (apa, siapa, kapan, di mana) semata. Ia belum mendorong pemikiran yang lebih jauh dalam diri pembaca, utamanya menjawab pertanyaan mengapa dan bagaimana. Ini, pada akhirnya, hanya membuat pembaca menjadi sebatas tahu fakta, bukan menjadi memahami dinamika masa silam.

Memang, kehadiran saya dalam media sejarah populer tersebut, salah satunya adalah mendorong penciptaan sejarah yang lebih kritis dalam bentuk publikasi. Hanya saja, sampai hari ini, kemampuan saya masih belum tersalurkan dengan sempurna, dan saya masih meraba-raba apa yang dapat saya lakukan untuk mewujudkan itu. Bisa dikatakan, saya masih belum berhasil untuk menggapai harapan saya.

Baca Juga  Menulis Sejarah adalah Hal yang Sulit?

Saya punya harapan besar, media sejarah populer yang saya kelola dapat tampil sebagai sebuah media sejarah yang proper, seperti media saya yang lain (yang masih begitu kecil dibandingkan yang saya bicarakan). Disayangkan, perjalanan ke arah sana masih belum terlihat terang. Semua masih cukup gelap, membuat saya tidak dapat melihat lebih jauh.

Satu hal yang dapat saya bayangkan, media sejarah populer tersebut perlu menggerakan seluruh sumber daya yang tersedia, jika memang mereka ingin mewujudkan apa yang mereka sampaikan dalam poster tersebut. Jika kondisi masih belum ada perubahan mendasar, mungkin identitas “sejarah” dari media tersebut akan luntur sepenuhnya.

Pi Network

Pi Network, Wujud Matinya Sebuah Kepakaran

Sekte Enggal Nirwana Sejati (ENS)

Enggal Nirwana Sejati, Eksistensi Sekte Penipuan Berbasis Web3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tag

Komentar Terbaru