Berbicara mengenai Teman-teman Bulu Burung (TTBB), hal pertama yang terlintas dalam benak saya adalah memori. Ia menyimpan beberapa kenangan, pahit dan manis, antara saya dan komunitas internet tersebut. Memori tersebut, yang akan saya ceritakan sedikit banyak melalui penulisan sebuah riwayat.
Catatan ini ditulis sebagai rekaman atas perjalanan Teman-teman Bulu Burung sejak 2018 hingga saat ini (2024). Pada bagian akhir, saya akan menulis sekadar proyeksi, ke mana komunitas diskusi internet tersebut akan saya bawa arah dan tujuannya. Consider tulisan ini sebagai cara saya meriwayatkan kisah TTBB dalam bentuk sebuah kisah sejarah.
Mei 2018: Kelahiran
Teman-teman Bulu Burung berdiri sebagai sebuah halaman Facebook pada 5 Mei 2018. Saat itu, terdapat dua hal yang mendorong saya merintis TTBB.
Pertama, adalah saya menemukan sebuah halaman Facebook bernama Partai Perkumpulan Tetangga Baik Dan Rahasia milik Hansel. Halaman tersebut merupakan sebuah parodi partai politik, dengan pengemasan menggunakan ilustrasi SpongeBob. Pada mulanya, halaman Facebook tersebut aktif, meski kini hanya menjadi sebuah catatan di jagat Facebook Indonesia.
Melihat halaman Partai Perkumpulan Tetangga Baik Dan Rahasia, saya berpikir sejenak, “mengapa saya tidak mencoba merintis halaman Facebook serupa?” Terlebih, terkait dengan alasan kedua, yakni saya tidak memiliki tempat untuk menyalurkan ide serta gagasan-gagasan saya, saya putuskan untuk membuat sebuah halaman Facebook.
Pada mulanya, saya ingin meniru konsep SpongeBob yang digunakan Hansel. Namun, saya tidak ingin menjadikan halaman Facebook saya sebagai partai politik. Saya memilih untuk mengemasnya sebagai sebuah wadah diskusi, dengan prinsip untuk mengajak pembaca untuk berpikir ke dalam diri.
Terkait dengan nama Teman-teman Bulu Burung, yang ditulis dengan kata ulang yang typo (dan tidak bisa diperbaiki lagi), tidak ada alasan khusus mengapa saya memilih nama tersebut. Mungkin karena 1) tidak ada komunitas lain yang menggunakan nama tersebut; dan 2) saya ingin mengemas halaman Facebook menjadi sesuatu yang dekat dan friendly. Itu mungkin yang sekiranya mendasari pemilihan nama Teman-teman Bulu Burung ini.
Sejak saat itu, TTBB terlahir ke dunia, menjadi sebuah wadah diskusi bagi masyarakat Facebook di Indonesia.
Mei 2018-2019: Masa Keemasan
Pada mulanya, TTBB berjalan tidak begitu ramai. Malah, saya dikira sedang mengelola sebuah halaman penggemar SpongeBob, dan kotak masuk halaman dipenuh dengan anak-anak yang mengobrol ngalor-ngidul.
Namun, sejak masuknya dua pengurus, Tegar dan Syahrul, TTBB menjadi lebih berwarna. Saya menyebut mereka sebagai bagian dari Tiga Serangkai, pengurus angkatan pertama TTBB.
Sebagai pengurus, mereka memiliki tugas penting masing-masing. Tegar aktif melakukan ekspansi dan perluasan jejaring. Proses ekspansi ini melahirkan grup Facebook bernama Kelompok Bulu Burung (2018-2020) dan server Discord bernama Teman-teman Bulu Burung (2018-2020). Tegar pula yang membantu sedikit banyak pengelolaan server Discord sehingga tumbuh menjadi sebuah server yang punya fanbase lumayan.
Syahrul, sebagai seorang yang religius, aktif menerbitkan postingan berbasis agama di TTBB. Dalam polemik Drama Salim yang berlangsung pada Mei 2019, Syahrul ikut turun menenangkan pembaca TTBB generasi awal yang kelimpungan menghadapi influx penikmat drama. Ia juga sempat menerbitkan beberapa catatan tercecer selama Ramadan 2019, sebanyak empat kali.
Sejak kehadiran Tiga Serangkai, pengurus TTBB semakin bertambah. Saya tidak ingat siapa-siapa saja yang pernah menjadi bagian TTBB. Saya hanya ingat tiga nama besar berikutnya, yakni Muammar, Ikhsan, dan Vita. Dari ketiga nama tersebut, hanya Vita yang tetap bersama saya hingga kini mengelola TTBB.
Perjalanan TTBB sejak kehadiran Tiga Serangkai hingga 2019 berjalan aktif. Konten terbit hampir setiap hari, utamanya konten-konten opini ringan. Diskusi TTBB juga aktif digelar di server Discord, baik seminggu sekali maupun dua kali dalam sebulan, setiap Sabtu malam. Bisa dikatakan, periode ini adalah Golden Age kiprah TTBB.
Mei 2019: Drama Salim
Bagi Anda, pembaca TTBB setelah Mei 2019, mungkin Anda mengikuti TTBB ketika Drama Salim mencuat di internet. Drama sang sesepuh dalam dunia per-report-an halaman dan grup Facebook tersebut tidak hanya besar di Facebook. Beberapa media daring, baik nasional maupun internasional, memberitakan drama ini
Bagi yang belum tahu, Drama Salim bermula dari ulah Muhammad Salim, pemilih halaman Facebook bernama Indonesian Reporting Commision (IReC) yang menghanguskan dua grup Facebook internasional. Alih-alih meminta maaf, Salim justru menantang anggota kedua grup tersebut dengan omongannya yang besar.
Namun, Salim menelan makanan yang lebih besar dari apa yang bisa ia telan. Seorang Australia memasang bounty $400 bagi siapa pun yang dapat melacak Salim. Alamat dan identitas pribadinya juga di-doxx oleh seseorang.
Pada mulanya, TTBB hanya sekadar memberitakan kasus Muhammad Salim ini. Namun, sebuah pesan diterima TTBB, yang meminta bantuan untuk menghubungkan Salim dengan warganet Facebook, untuk menyampaikan permintaan maaf. TTBB menyetujuinya, dan selama satu minggu lebih kurang, halaman Facebook dibuat sibuk oleh Salim.
Kami dicerca massa yang murka saat itu. Namun, TTBB, yang diwakili Tegar, bersama beberapa rekan di POST, tetap berjalan. TTBB akhirnya berhasil menyelesaikan Drama Salim dengan menerbitkan video permintaan maaf Muhammad Salim di halaman Facebook.
Sayang, beberapa warganet Facebook tetap tidak terima atas sikap kami. Selama dua minggu, kami berusaha cooling down api konflik, dengan bersikap tidak peduli lagi dan memilih untuk menerbitkan konten opini pendek seperti biasa.
Baru pada dua atau tiga minggu kemudian, ketika salah satu grup Facebook yang sempat dihanguskan IReC membuat postingan penghinaan SARA, TTBB mendapatkan angin dukungan oleh warganet Facebook.
Meski saya tidak terlibat langsung dengan Drama Salim, karena memang sudah dibuat stress duluan oleh ulah Salim yang tidak kooperatif, saya perlu ceritakan kisah ini. Kisah ini penting, karena ia adalah bagian dari riwayat perjalanan TTBB, dan sulit untuk dipisahkan begitu saja.
Sebenarnya, bagian ini bisa saya tulis menjadi sebuah tulisan tersendiri. Tetapi, catatan-catatan saya terkait Drama Salim menghilang seiring dengan hangusnya grup Kelompok Bulu Burung pada September 2020. Jadi, hanya segini kisah yang bisa saya tulis perihal kisah ini.
Januari 2020-Februari 2023: Konflik dan Pengarsipan
Pandemi COVID-19 menyerang dunia. TTBB juga ikut terserang olehnya, membuat geliat komunitas menjadi menurun. Terlebih pula, kondisi kesehatan saya sepanjang 2020 begitu buruk, membuat saya sulit untuk aktif mengelola TTBB.
Satu hal, 2020 adalah periode konflik dalam tubuh TTBB. Gesekan, yang bermula dari sebuah isu pribadi, membuat TTBB harus diarsipkan pada September 2020. Tidak lama sebelum itu terjadi, Kelompok Bulu Burung juga mendadak hilang dari peredaran.
Selama masa pengarsipan, TTBB tidak diterbitkan. Tidak ada yang bisa melihat TTBB, kecuali saya dan seorang rekan yang masih tetap sebagai pengurus. Selama periode itu, tidak ada konten terbit untuk pembaca setia.
Beberapa pembaca menghubungi saya secara pribadi, bertanya ke mana rimbanya TTBB. Saya tidak bisa menjawab pertanyaan mereka. Saya memilih untuk fokus dengan kesehatan diri, dan mengabaikan seluruh pesan terkait TTBB.
Trauma yang dalam akibat konflik membekas selama beberapa tahun, membuat saya tidak dapat bergerak ke mana-mana. Itu juga membuat TTBB tetap dalam masa pengarsipan hingga Maret 2023. Selama periode tersebut, saya hanya menghabiskan waktu untuk menyembuhkan diri sendiri.
Tidak banyak yang bisa saya ceritakan perihal periode ini, kecuali sebuah penegas bahwa selama 2020 hingga Februari 2023, TTBB berada dalam mode diam, tidak ada geliat apa pun, dan saya harus menghadapi sebuah trauma perundungan yang dalam.
Maret 2023-Desember 2024: Angin Baru
Pada 12 Maret 2023, saya iseng melihat halaman TTBB. Pada mulanya, saya hanya ingin mengganti foto sampul halaman, yang sudah lama saya copot. Sebelum menggantinya, saya putuskan untuk mengubah pengaturan halaman, dari tidak diterbitkan menjadi diterbitkan.
Tak lama, saya melihat banyak sekali respon dari pembaca TTBB atas perubahan foto sampul halaman. Saya tidak menyangka, bahwa banyak orang menantikan kehadiran kembali TTBB. Merespon mereka yang antusias, saya putuskan untuk mengaktifkan kembali TTBB, melalui sebuah catatan singkat tentang apa yang terjadi dengan TTBB (dan saya tentunya).
Pada mulanya, TTBB tidak begitu aktif. Mungkin karena konten TTBB masih berupa opini pendek, dan market-nya sudah banyak berubah. Untuk itu, saya berinisiatif mengubahnya menjadi short caption.
Syukur, pembaca menikmati perubahan yang dilakukan TTBB. Mereka masih tetap dapat berdiskusi dan mengutarakan pendapat, kali ini dengan pendekatan yang lebih santai dan ringan. Itu merupakan sebuah angin segar bagi TTBB.
Tidak hanya itu, berbekal sedikit pengetahuan tentang penulisan berita, dan kehadiran Indra selaku penulis yang saya bina di Historical Meaning, TTBB mencoba membuat konten berita satir. Sejauh ini, konten ini memiliki market di kalangan pembaca. Meski terkadang berita yang Indra kirim kepada saya terlalu membosankan, para pembaca TTBB dapat menyesuaikan diri dengan konten tersebut dengan berkomentar seperti seorang warga Bikini Bottom.
Hingga riwayat ini ditulis, TTBB sudah berjalan kembali lebih dari satu tahun (mungkin satu tahun setengah, lebih kurang). Antusiasme pembaca TTBB yang masih menggelora untuk berdiskusi, beropini, dan tertawa bersama TTBB, membuat TTBB bisa tetap tumbuh dan relevan sebagai sebuah komunitas.
Future Ahead
Saat ini, TTBB memang tidak menjadi fokus utama saya. Saya hanya menjadikan TTBB sebagai tempat singgah, membagikan pandangan saya terkait isu-isu yang saya rasa relevan untuk disinggung. Tidak jarang, saya membicarakan diri saya sendiri, seperti postingan TTBB tentang pengalaman saya menjadi pengawas SAS.
Saya sendiri tidak ada proyeksi khusus, ke mana TTBB akan saya arahkan pada masa berikutnya. Mungkin TTBB akan mengembangkan jenis konten baru. Mungkin juga TTBB akan mengadakan acara diskusi yang lebih intens di server Discord.
Satu hal yang pasti, TTBB akan tetap saya aktifkan sebagai sebuah komunitas diskusi, tempat bagi para pembaca veteran dan pembaca muda untuk bertemu, bertukar pandangan, dan menyampaikan gagasan kepada sesama. Sesuai dengan prinsip awal TTBB sejak dirintis, saya berharap TTBB dapat mengajak pembaca untuk berpikir ke dalam diri, merenungkan apa yang ada selama ini.

One thought on “Riwayat Singkat Teman-teman Bulu Burung”